Kisah Horor di Pesantren: Dijenguk Ayah yang Sudah Meninggal (Part 3) Ilustrasi cerita Kisah Horor di Pesantren. Foto: Piqsels Namanya Sandi, dia itu pendiam. Berbicara seperlunya saja dan memisahkan diri dari santri lain. Di pondok biasanya kami makan bersama dan saling berbagi lauk pauk. Namun lain halnya dengan Sandi, dia selalu makan sendirian di depan lemarinya. Yang dia makan pun hanya nasi putih dan garam. Padahal, dapur pondok menyediakan lauk pauk yang beragam. ADVERTISEMENT Aku juga heran, hampir semua pakaian Sandi berwarna putih. Pakaian di lemarinya yang berbeda warna hanya baju pramuka, celana hitam dan batik sekolah. Aku tidak paham apa maksud dari pakaiannya yang serba putih itu. Dia juga punya batu berwarna putih yang ukurannya sekepalan tangan. Batu itu selalu ia bawa ke mana-mana, kadang ada saja temanku yang iseng membicarakan batu milik si Sandi. Katanya itu batu berhala dan harus dimusnahkan. Aku sendiri sih tidak berani berkata macam-macam tentang batu itu karen...